Rabu, 07 November 2012

5. PENGEMBANGAN BENTUK LATIHAN GERAK DASAR LOKOMOTOR (LOMPAT DAN LONCAT) MELALUI PERMAINAN UNTUK ANAK TUNAGRAHITA DI SMALB- C SUMBER DHARMA MALANG


Gerak lokomotor adalah gerak memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat yang lain seperti jalan, lari, lompat, dan loncat. Gerakan tersebut merupakan gerakan dasar yang harus dikuasai seorang siswa baik normal maupun berkebutuhan khusus dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan melalui observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (Penjasorkes) di SMALB- C Sumber Dharma Malang tentang materi gerak dasar lokomotor berupa lompat dan loncat, ternyata masih belum ada pedoman yang bisa digunakan sebagai acuan dalam menerapkan pembelajaran gerak dasar lompat dan loncat, hal ini mengakibatkan materi terkait dengan gerak dasar lompat dan loncat belum bisa dilaksanakan dengan sistematis dan terencana. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru SMALB- C Sumber Dharma Malang,  maka akan dilakukan pengembangan tentang pedoman model latihan gerak dasar lokomotor (lompat dan loncat) melalui permainan yang disesuikan dengan karakteristik anak tunagrahita, agar dapat meningkatkan keterampilan, keaktifan, dan pemahaman siswa dalam pembelajaran teknik dasar lompat dan loncat.
Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu di SMALB- C Sumber Dharma Malang belum ada buku pedoman bentuk latihan gerak dasar lokomotor berupa lompat dan loncat melalui permainan sehingga secara otomatis siswa SMALB- C Sumber Dharma Malang belum pernah melakukan gerakan lompat dan loncat secara terperogram. Pada anak tungrahita itu sendiri terjadi hambatan perkembangan kecerdasan, gerakan canggung/ tidak terkendali serta koordinasi yang kurang. Dalam pelaksanaan pembelajaran Penjasorkes disekolah SMALB- C Sumber Dharma Malang, setelah melakukan olahraga pemanasan, siswa langsung bermain bebas sesuai dengan kehendak masing-masing, dalam hal ini pendidik hanya bertugas sebagai pengamat siswa yang sedang melakukan aktifitas. Padahal anak tunagrahita sangat perlu dalam melatih kualitas gerak yang dimiliki agar nantinya kemampuan gerak dan koordinasi mereka bisa meningkat lebih baik.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan buku pedoman bentuk latihan gerak dasar lokomotor lompat dan loncat melalui permainan untuk siswa SMALB- C Sumber Dharma Malang, yang nantinya dengan adanya buku pedoman berupa bentuk latihan ini diharapkan guru bisa mempunyai acuan dalam melaksanakan pembelajaran materi lompat dan loncat sehingga siswa mampu melakukan dan melaksanakan kegiatan model latihan gerak dasar lokomotor lompat dan loncat dengan senang sesuai dengan karakteristik anak tunagrahita.
Model pengembangan pedoman bentuk latihan gerak dasar lokomotor melalui permainan untuk anak tunagrahita di SMALB- C Sumber Dharma Malang ini menggunakan model pengembangan Research and Development dari Borg and Gall yang dimodifikasi, peneliti hanya mengambil 7 langkah dari 10 langkah yang ada. Penelitian ini dilakukan di  SMALB- C Sumber Dharma Malang. Subjek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli terdiri dari, 1 ahli gerak lokomotor, 1 ahli pendidikan jasmani adaptif, dan 1 ahli pembelajaran atletik (2) uji coba kelompok kecil dengan melibatkan 6 siswa di SMALB- C Sumber Dharma Malang, (3) uji coba kelompok besar dengan melibatkan 7 siswa di SMALB- C Sumber Dharma Malang.
Dari hasil uji coba (kelompok besar) yang diperoleh dari kuesioner bahwa seluruh aspek dalam pengembangan pedoman bentuk latihan gerak dasar lokomotor lompat dan loncat melalui permainan untuk anak tunagrahita di SMALB- C Sumber Dharma Malang, dari 25 pertanyaan terkait dengan kesesuian standar kompetensi, kompetensi dasar, kesesuaian gerakan model latihan dengan karakteristik anak tunagrahita, nilai-nilai yang terkandung dalam isi buku pedoman, hingga terkait dengan rujukan serta kesimpulan secara keseluruhan tentang isi buku, 24 pertanyaan terjawab sesuai dan hanya satu pertanyaan yang terjawab kurang sesuai yaitu terkait dengan variasi dalam penyajian model-model latihan dalam buku. Oleh karena itu dari hasil tersebut maka bisa dikatakan buku bentuk latihan gerak dasar lompat dan loncat ini sesuai apabila diterapkan untuk anak tunagrahita tingkat SMALB-C.
Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan sebaiknya subjek penelitian ini dilakukan pada yang lebih luas dan dilengkapi dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi anak tunagrahita. Disarankan juga agar penelitian ini dilanjutkan dengan melakukan penelitian eksperimen terkait dengan bagaimana pengaruh dari masing-masing model latihan lompat dan loncat terhadap sistem syaraf dan sistem otot anak tunagrahita.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar